BAB
IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil penelitian
Penelitian
ini dilakukan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan mengambil
data-data sesuai dengan judul penelitian yang ada di ruang rekam medik RS
tersebut. Penelitian ini hanya melakukan analisis univariat tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kanker serviks dilihat dari segi umur,
paritas, dan alat kontrasepsi yang digunakan.
1. Umur
Umur dalam penelitian ini
dikategorikan menjadi umur <20 tahun, 20-35 tahun, dan >35 tahun.
Berdasarkan hasil penelitian dari
faktor umur, dideskripsikan dalam diagram 1

Sumber : Data Sekunder RSUD
Margono Soekarjo tahun 2010
Diagram 1. Distribusi frekuensi umur dalam penelitian
gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kanker serviks di RSUD Prof.
Dr. Margono Soekarjo Purwokerto tahun 2010
Berdasarkan diagram di atas umur wanita yang
menderita kanker
serviks sebagian besar berumur >35 tahun
yaitu 132 orang (94,3%) dan yang berumur <20 tahun tidak ada.
2. Paritas
Paritas dalam penelitian ini dapat
dideskripsikan dalam diagram
2 sebagai
berikut.
Sumber : Data Sekunder RSUD
Margono Soekarjo tahun 2010
Diagram 2. Distribusi
frekuensi paritas dalam penelitian gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi
kejadian kanker serviks di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto tahun
2010
Berdasarkan diagram di atas paritas wanita
yang terkena kanker serviks yaitu primipara sebanyak 17 orang (12,1%),
multipara 75 orang (53,6%), dan grandemulti sebanyak 48 orang (34,3%).
3. Alat
kontrasepsi yang digunakan
Alat kontrasepsi yang digunakan
dapat dideskripsikan dalam diagram.
yaitu sebagai berikut :
Sumber : Data Sekunder RSUD
Margono Soekarjo tahun 2010
Diagram 3. Distribusi
frekuensi alat kontrasepsi yang digunakan dalam penelitian gambaran faktor-faktor
yang mempengaruhi kejadian kanker serviks di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto tahun 2010
Berdasarkan diagram 3 alat kontrasepsi yang
digunakan oleh wanita dengan kanker serviks yaitu alat kontrasepsi hormonal
sebanyak 117 orang (83,6%) dan alat kontrasepsi nonhormonal sebanyak 23 orang
(16,4%).
B.
Pembahasan
1. Umur
Berdasarkan
diagram 1
umur wanita yang mengalami kanker serviks dapat disimpulkan sebagian besar
berumur >35 tahun yaitu sebanyak 132 orang (94,3%).
Pada
penelitian ini sesuai diagram
1
bahwa sebagian besar penderita kanker serviks pada kategori usia >35 tahun
yaitu sebanyak 132 orang (94,3%) dan sudah tergolong pada stadium lanjut.
Hal
ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sukaca (2009), bahwa wanita yang
menderita kanker serviks sebagian besar berumur >35 tahun. Pada usia 35-55
tahun memiliki resiko 2-3 kali lipat untuk menderita kanker mulut rahim
(serviks). Semakin tua umur seseorang akan mengalami proses kemunduran, proses
tersebut tidak terjadi pada suatu alat saja tetapi pada seluruh organ tubuh.
Semua bagian tubuh mengalami kemunduran, sehingga pada usia lanjut lebih banyak
kemungkinan jatuh sakit, atau mudah mengalami infeksi.
Menurut
Riono (1999) dalam penelitian Sandra Van Loon di RS Hasan Sadikin pada tahun
1996, wanita yang menderita kanker leher rahim dan dirawat masih berusia muda
pada saat melakukan hubungan seksual pertama kali antara umur 15 – 19 tahun.
Menurut
Aziz (2001) resiko tinggi terserang kanker leher rahim pada mereka yang berusia
di bawah 16 tahun pada saat melakukan hubungan seksual pertama kali meningkat
10 – 12 kali lipat dari pada yang melakukan hubungan seksual pertama kali
diatas usia 20 tahun. Hal ini disebabkan karena pada masa transisi dari masa
kanak-kanak menjelang dewasa, terjadilah menstruasi yang menyebabkan hormon
estrogen meningkat menyebabkan sel-sel pada dinding vagina menjadi tebal.
Begitu pula dengan glikogen, yang oleh bakteri bermanfaat diubah menjadi asam
vagina. Pada dasarnya asam vagina ini berfungsi untuk melakukan proteksi
terhadap infeksi. Namun akibat suasana vagina yang menjadi asam, jaringan
epitel disekitarnya menjadi berlapis-lapis. Apabila dalam situasi yang penuh
perubahan itu masuk sperma, maka perubahan akan semakin besar. Apalagi jika terdapat
luka akibat gesekan, sel-sel epitel akan terganggu dan menjadi tidak normal.
Tingginya
kejadian kanker serviks pada usia >35 tahun dan sudah dalam stadium lanjut, hal tersebut kemungkinan dikarenakan
penderita tidak pernah melakukan pemeriksaan secara dini atau malu untuk datang berobat sejak awal keluhan,
sehingga kanker serviks yang diderita baru terdeteksi setelah berusia >35
tahun dan sudah dalam stadium lanjut.
2. Paritas
Berdasarkan
diagram 2
paritas wanita yang terkena kanker serviks yaitu primipara sebanyak 17 orang
(12,1%), multipara 75 orang (53,6%), dan grandemulti sebanyak 48 orang (34,3%).
Hal
ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Manuaba (2008), bahwa peningkatan
infeksi semakin besar pada keadaan seperti frekuensi hubungan seksual yang
tinggi, multipartner, multi paritas, jarak kehamilan yang terlalu dekat, pemakaian
pil KB oral yang dapat menurunkan asam folik dan perkawinan usia muda.
Menurut
Sukaca (2009), paritas berbahaya adalah dengan memiliki jumlah anak lebih dari
2 orang atau jarak persalinan terlampau dekat. Sebab dapat menyebabkan
timbulnya perubahan sel-sel abnormal pada mulut rahim. Jika jumlah anak yang
dilahirkan melalui jalan normal banyak dapat menyebabkan terjadinya perubahan
sel abnormal dari epitel pada mulut rahim dan dapat berkembang menjadi
keganasan.
Berdasarkan
penelitian dapat disimpulkan bahwa wanita yang berisiko tinggi terkena kanker
serviks adalah wanita dengan multiparitas. Hal ini sejalan dengan teori yang
ada bahwa wanita multiparitas berisiko tinggi terkena kanker serviks.
3. Alat
Kontrasepsi yang
Digunakan
Berdasarkan
diagram 3
alat kontrasepsi yang digunakan oleh wanita dengan kanker serviks yaitu alat
kontrasepsi hormonal sebanyak 117 orang (83,6%) dan alat kontrasepsi
nonhormonal sebanyak 23 orang (16,4%).
Hasil
penelitian tersebut relevan dengan teori yang dikemukakan oleh Ali (2002), bahwa
pada penggunaan kontrasepsi hormonal tidak jarang pula ditemukan displasia serviks, sehingga selama masih
menggunakan kontrasepsi hormonal sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan ginekologik secara teratur, seperti
pemeriksaan pap’smear setiap 6 bulan
sampai 1 tahun sekali.
Sedangkan
menurut Sukaca (2009), penggunaan kontrasepsi pil dalam jangka waktu lama (5
tahun atau lebih) meningkatkan resiko kanker leher rahim sebanyak 2 kali. Pil
KB dapat memberikan efek negatif pada kanker leher rahim sebab tugas pil KB
adalah mencegah kehamilan dengan cara menghentikan ovulasi dan menjaga kekentalan
lendir servikal sehingga tidak dilalui sperma. WHO melaporkan resiko relatif
pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan meningkat sesuai dengan
lamanya pemakaian.
Berdasarkan
penelitian dapat disimpulkan bahwa pemakaian alat kontrasepsi hormonal
meningkatkan resiko terkena kanker serviks. Pemakaian alat kontrasepsi hormonal
dapat menurunkan asam folik dalam tubuh. Hal ini sejalan dengan teori menurut
Manuaba salah satu peningkatan resiko kanker serviks yaitu pemakaian KB Pil,
dalam hal ini KB Pil merupakan salah satu macam dari alat kontrasepsi hormonal.
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil
analisis dan pembahasan yang peneliti
lakukan, maka dapat
diambil kesimpulan yaitu sebagai berikut :
1. Umur
wanita yang menderita kanker serviks di RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo
Purwokerto sebagian besar berumur >35 tahun yaitu sebanyak 132 orang
(94,3%).
2. Paritas
wanita yang menderita kanker serviks di RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo
Purwokerto sebagian besar wanita dengan multipara yaitu sebanyak 75 orang
(53,6%).
3. Alat
kontrasepsi yang digunakan oleh wanita dengan kanker serviks sebagian besar adalah menggunakan alat kontrasepsi hormonal
yaitu sebanyak 117 orang (83,6%).
B.
Saran
1. Bagi
Rumah Sakit
Hendaknya lebih
meningkatkan pelayanan khususnya dalam hal pelayanan konseling kepada pasien dengan
kanker serviks agar lebih meminimalkan komplikasi yang dialami pasien. Serta secara umum hendaknya lebih sering melakukan
sosialisasi tentang pemeriksaan pap’smear
atau IVA.
2.
Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan variabel
penelitian yang lain yang dapat mempengaruhi kejadian kanker serviks sehingga hasil
penelitian dapat menjadi masukkan bagi dinas yang
terkait.
3. Bagi
Masyarakat
a. Agar
tidak terjadi kanker serviks dengan stadium lanjut maka hendaknya wanita
melakukan pemeriksaan rutin secara dini misalnya melalui pemeriksaan pap’smear atau IVA yang
selama ini sudah sering dilakukan oleh berbagai organisasi atau
kegiatan-kegiatan sosial lainnya dan segera memeriksakan
kepada tenaga medis apabila mengalami keluhan.
b. Mengatur dan atau membatasi jumlah anak.
c. Hendaknya
lebih aktif untuk mencari informasi-informasi tentang kesehatan khususnya
tentang kanker serviks sehingga masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan
terutama tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kanker serviks.