BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan teori
1. Kanker Serviks
a.
Pengertian
Kanker Serviks
Kanker adalah
penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel yang tidak normal (Sukardja, 2000).
Leher
rahim atau serviks merupakan bagian dari rahim membentuk sepertiga bagian bawah
uterus dan merupakan daerah dibawah istimus
yang meliputi ostium internum dan ostium exsternum (Veralls, 2003). Kanker
leher rahim adalah tumbuhnya sel-sel abnormal pada leher rahim (Tobing, 2002).
|
9
|
Menurut Share (2008), kanker leher
rahim adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah leher rahim (serviks), yaitu
suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah
rahim yang terletak antara rahim (uterus) dan liang senggama (vagina). Kanker leher rahim
terjadi jika sel-sel yang ada di daerah tersebut membelah secara tak terkendali
dan menjadi abnormal. Jika sel-sel tersebut terus membelah, maka akan terbentuk
suatu massa jaringan yang disebut tumor. “Tumor” dapat bersifat jinak atau
ganas, jika tumor tersebut menjadi ganas, maka keadaanya
disebut sebagai kanker leher rahim.
Kanker serviks atau kanker mulut rahim adalah kanker
yang terjadi pada daerah leher rahim, yang paling
sering dijumpai pada wanita setelah kanker payudara dan dapat menyebabkan
kematian. Angka kejadiannya sekitar 74% dibandingkan kanker ginekologi lainnya.
Data WHO tahun 2003 menyebutkan bahwa sekitar 500.000 wanita setiap tahunnya
didiagnosa menderita kanker serviks, dan hampir 60% diantaranya meninggal
dunia. Di Indonesia diperkirakan terjadi sekitar 40 kasus baru per harinya dan
50% diantaranya meninggal karena penyakit tersebut. Secara epidemiologi, kanker
serviks cenderung timbul pada kelompok usia 33-55 tahun, tetapi dapat juga
timbul pada usia yang lebih muda (Sofani, 2008).
b.
Penyebab
/ Etiologi Kanker Serviks
Penyebab kanker serviks adalah virus HPV (human
papilloma virus). Virus ini adalah sejenis virus yang menyerang manusia.
Tipe virus ini banyak (lebih dari 100 tipe) dan sebagian besar tidak
menimbulkan gejala yang terlihat dan akan hilang dengan sendirinya (self
limiting). Infeksi HPV paling sering terjadi pada kelompok usia 18-28
tahun. Virus yang
menginfeksi pada saat pertama kali tidak langsung muncul sebagai tumor / kanker.
Infeksi pertama akan berkembang kearah kanker serviks tergantung dari jenis / tipe HPVnya,
tipe resiko rendah atau resiko tinggi, yang akan menimbulkan kelainan lesi pra
kanker. Lesi pada tipe resiko rendah (tipe 6 dan 11) hampir tidak beresiko
menjadi kanker dan hanya menimbulkan kelainan yang disebut genital wart
(kutil pada kelamin). Pada infeksi HPV, lesi prakanker dapat regresi (sembuh sendiri karena system
kekebalan tubuh alamiah), menetap atau progresif.
Sebagian besar dapat regresi dalam waktu 1-2 tahun. Akan tetapi lesi yang
menetap karena infeksi HPV resiko tinggi (tipe 16 dan 18) akan cenderung
berkembang menjadi kanker (progresif)
dalam waktu cepat ataupun lambat. Infeksi ini akan menyebabkan perubahan pada
sel-sel serviks sehingga sel abnormal tumbuh lebih cepat tanpa terkontrol dan
membentuk benjolan tumor (Sofani, 2008).
Hingga saat ini Human Papilloma Virus (HPV)
merupakan penyebab 99,7% kanker serviks. Virus papilloma ini berukuran kecil, diameter
virus kurang lebih 55 mm. Terdapat
lebih dari 100 tipe HPV, HPV tipe 16, 18, 31, 33, 35, 45, 51, 52, 56 dan 58
sering ditemukan pada kanker maupun lesi pra kanker serviks. HPV tipe 16 dan 18
merupakan 70 % penyebab kanker serviks.
Sebenarnya sebagian besar virus HPV akan menghilang
sendiri karena ada system kekebalan tubuh alami, tetapi ada sebagian yang tidak
menghilang dan menetap. HPV yang menetap inilah yang menyebabkan perubahan sel
leher rahim menjadi kanker serviks. Perjalanan kanker serviks dari infeksi HPV,
tahap pre kanker hingga menjadi kanker serviks memakan waktu 10-20 tahun (Anonim, 2009).
Menurut Tobing (2002), etiologi pasti
kanker rahim belum diketahui. Tetapi diduga penyebab terjadinya kanker leher
rahim adalah sebagai berikut :
1) Human Papilloma Virus
terutama tipe 16 dan 18 diduga sebagai penyebab kanker leher rahim.
Kesimpulan ini diambil berdasarkan
pada lesi infeksi HPV tipe 16 dan 18
ditemukan adanya ancuploidi dan
gambaran mitotik abnormal, sehingga
dapat menyebabkan timbulnya kanker. Virus ini umumnya ditularkan melalui
hubungan seksual dan masuk ke sel-sel tubuh lewat perlukaan yang terjadi di leher
rahim.
Menurut Nasdaldy (1998), HPV makin mudah menginfeksi bila ada
kerentaan pada selaput lendir mulut rahim. Hal ini umumnya terjadi pada pasien
yang berusia muda, daya tahan imunologi yang rendah, berhubungan seksual dengan
lebih dari satu pasangan, dan gaya hidup yang tidak sehat.
2) Sperma
yang mengandung komplemen histone
(sejenis protein) yang dapat bereaksi dengan DNA sel rahim.
Sperma juga dapat menyebabkan
terjadinya kanker leher rahim. Oleh karena bagian kepala sperma mengandung
protein dasar, sehingga apabila menyatu dengan leher rahim, protein dasar ini
dapat mengakibatkan gangguan sel di serviks. Sehingga sperma yang bersifat
alkalis dapat menimbulkan hiperplasia
dan neoplasia pada sel leher rahim.
c.
Faktor-faktor
yang menambah resiko timbulnya kanker leher rahim
Menurut Sukaca
(2009), faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kanker leher rahim dibagi menjadi
3 faktor.
Adapun ke 3
faktor tersebut adalah :
1) Faktor
resiko
a) Makanan
Ada beberapa penelitian
yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatakan resiko
terjadinya displasia ringan dan sedang. Makanan yang mungkin juga meningkatkan resiko
terjadinya kanker serviks pada wanita adalah makanan yang rendah Beta karoten,
Retinol (vitamin A), Vitamin C, dan Vitamin E.
Sedangkan makanan yang
dapat berkhasiat dalam pencegahan kanker adalah bahan-bahan antioksidan seperti
: advokat, brokoli, kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat, vitamin
E, vitamin C dan beta karoten juga mempunyai khasiat antioksidan yang kuat.
Antioksidan merupakan bahan yang dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh
buruk radikal bebas yang terbentuk akibat oksidasi karsinogen bahan kimia.
Sumber dari vitamin E adalah banyak terdapat dalam minyak nabati (kedelai,
jagung, biji-bijian dan kacang-kacangan). Sedangkan vitamin C banyak terdapat
dalam sayur-sayuran dan buah-buahan.
b) Gangguan
sistem kekebalan
Wanita yang terkena
gangguan kekebalan tubuh atau kondisi imunosupresi (penurunan kadar kekebalan
tubuh) dapat terjadi peningkatan terjadinya kanker leher rahim. Pada wanita
imunokompromise (penurunan kekebalan tubuh) seperti transplantasi ginjal dan
HIV, dapat mengakselerasi (mempercepat) pertumbuhan sel kanker dari noninvasif
menjadi invasif (tidak ganas menjadi ganas).
c) Pemakaian
kontrasepsi
Pada penggunaan
kontrasepsi hormonal tidak jarang pula ditemukan displasia serviks, sehingga selama masih menggunakan kontrasepsi
hormonal sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan ginekologik secara teratur, seperti pemeriksaan pap’smear setiap 6 bulan sampai 1 tahun
sekali (Ali, 2002).
Sejumlah penelitian
menunjukan bahwa penggunaan metode barier (diagfragma dan kondo) akan
menurunkan resiko kanker serviks. Hal ini disebabkan serviks dilindungi dari
kontak langsung bahan karsinogen dari cairan semen. Hampir semua spermisida
mengandung surfaktan kimia aktif untuk menghentikan gerakan sperma untuk
beberapa kontrasepsi lain dapat menonaktifkan virus yang ditularkan secara
seksual (Imam, 2010).
Penggunaan kontrasepsi
pil dalam jangka waktu lama (5 tahun atau lebih) meningkatkan resiko kanker
leher rahim sebanyak 2 kali. Pil KB dapat memberikan efek negatif pada kanker leher
rahim sebab tugas pil KB adalah mencegah kehamilan dengan cara menghentikan
ovulasi dan menjaga kekentalan lendir servikal sehingga tidak dilalui sperma.
Menurut penelitian jika
menggunakan metode kontrasepsi barrier (penghalang), terutama yang menggunakan
kombinasi mekanik dan hormon memperlihatkan penurunan angka kejadian kanker
leher rahim yang diperkirakan karena penurunan paparan terhadap agen penyebab
infeksi. Sedangkan jika memakai kontrasepsi oral yang dipakai dalam jangka
panjang yaitu lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan resiko relatif 1,53 kali.
WHO melaporkan resiko relatif pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali
dan meningkat sesuai dengan lamanya pemakaian.
d) Ras
Ras juga dapat
menyebabkan resiko kanker leher rahim sebab pada ras Afrika-Amerika kejadian
kanker leher rahim meningkat sebanyak 2 kali dari Amerika hispanik. Sedangkan
untuk ras Asia-Amerika memiliki angka kejadian yang sama dengan warga Amerika.
Hal ini berkaitan dengan faktor sosioekonomi.
e) Polusi
udara
Polusi udara ternyata
dapat juga memicu penyakit kanker leher rahim. Sumber dari polusi udara ini
disebabkan oleh dioksin. Zat dioksin ini merugikan tubuh. Sumber dioksin
berasal dari beberapa faktor antara lain : pembakaran limbah padat dan cair,
pembakaran sampah, asap kendaraan bermotor, asap hasil industri kimia,
kebakaran hutan dan asap rokok.
f) Pemakaian
DES
Pemakaian DES (dietilstilbestrol) adalah untuk wanita
hamil. Yang bertujuan untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun
1940-1970). Ini sebenarnya dapat memicu kanker leher rahim.
g) Golongan
ekonomi lemah
Golongan ekonomi lemah
menjadi resiko terkena kanker leher rahim karena golongan ekonomi lemah tidak
mampu melakukan Pap’Smear secara
rutin. Pengetahuan mereka mengenai resiko kanker leher rahim juga sangat minim.
Oleh sebab itu mereka banyak terjangkit penyakit ini.
h) Terlalu
sering membersihkan vagina
Membersihkan vagina
terlalu sering ternyata berdampak tidak baik. Terlalu sering menggunakan
antiseptik untuk mencuci vagina dapat memicu kanker serviks. Dengan mencuci
vagina terlalu sering maka dapat menyebabkan iritasi pada serviks dan iritasi
ini akan merangsang terjadinya perubahan sel yang akhirnya berubah menjadi
kanker.
2) Faktor
individu
a) HPV (Human Papillomavirus)
Penelitian baru-baru
ini memperlihatkan bahwa infeksi HPV dapat menyebabkan kanker leher rahim. Hal
ini terdeteksi menggunakan penelitian molecur. Pada 99,7% wanita dengan
karsinoma sel skuamosa karena infeksi HPV merupakan penyebab mutasi neoplasma
(perubahan sel normal menjadi ganas).
Terdapat 138 strain HPV
yang sudah diidentifikasi, 30 diantaranya dapat ditularkan melalui hubungan
seksual. Dari sekian tipe HPV yang menyerang dubur dan alat kelamin. Ada 4 tipe
HPV yang biasa menyebabkan masalah di manusia. Seperti 2 subtipe HPV dengan
resiko tinggi keganasan. Yaitu tipe 16 dan 18 yang ditemukan pada 70% kanker
leher rahim. Serta HPV tipe 6 dan 11, yang menyebabkan 90% kasus genital warts (kutil kelamin).
b) Faktor
etologik
Penelitian saat ini
memang memfokuskan virus sebagai penyebab penting kanker leher rahim. Sebab
infeksi protozoa, jamur dan bakteri tidak potensial onkogenik. Tidak semua
virus memang dapat menyebabkan kanker. Namun paling tidak dikenal kurang lebih
dari 150 juta jenis virus diduga memegang peranan penting dalam kejadian kanker
pada binatang. Sepertiganya diantaranya adalah golongan virus DNA. Pada proses
karsinogenesis asam nukleat virus tersebut dapat bersatu ke dalam gen dan DNA sel
tuan rumah sehingga menyebabkan terjadinya mutasi sel.
c) Herpes
Simpleks Virus (HVS) tipe-2
Pada awal tahun 1970
herpes simpleks tipe 2 banyak dibicarakan, lantaran sebagai timbulnya kanker
serviks atau kanker leher rahim. Namun ternyata virus tersebut tidak berperan
besar dalam timbulnya kanker serviks. Virus ini hanya diduga sebagai faktor
pemicu terjadinya kanker. Atau dianggap sama dengan karsinogen kimia atau
fisik.
d) Perubahan
fisiologik epitel serviks
Jaringan epitel pada
serviks ada dua jenis yaitu epitel skuamosa dan epitel kolumnar. Kedua epitel
tersebut dibatasi oleh sambungan skuamosa-kolumnar (SSK). Namun letaknya
menyesuaikan umur, aktivitas seksual dan paritas.
Pada wanita yang
seksualitasnya tinggi maka SSK terletak di ostium eksternum. Wanita dapat
terjadi perubahan fisiologis pada jaringan epitel serviks. Jaringan epitel kolumnar
akan digantikan epitel skuomosa yang disebut dengan metaplasia. Perubahan ini
terjadi karena pH yang rendah dan biasanya sering dijumpai pada masa pubertas.
Akibat proses metaplasia ini maka terdapat 2 SSK, yaitu SSK asli dan SSK baru.
Menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel kolumnar.
Daerah di antara kedua SSK ini disebut daerah transformasi.
Perubahan pH yang
rendah ini kemungkinan bisa disebabkan karena aktivitas bahan pemicu kanker
leher rahim. Hal ini berbahaya karena dapat mengubah sel yang normal menjadi
sel yang tidak normal.
e) Perubahan
neoplastik epitel serviks
Proses terjadinya
kanker serviks begitu erat dengan proses metaplasia. Akibat pH rendah maka
bahan-bahan pemicu kanker dapat bermutasi dan dapat mengubah sel aktif
metaplasia. Ini menimbulkan sel-sel berpotensi ganas.
Bisa saja mutagen yang
bermutasi berasal dari Human Papilo Virus (HPV). Sel yang mengalami mutasi
tersebut dapat berkembang menjadi sel diplastik dan dapat menyebabkan kelainan
epitel. Dari displasia ringan, displasia sedang, displasia berat dapat
berkembang menjadi karsinoma invasive. Tingkat displasia dan karsinoma in-situ
dikenal juga sebagai tingkat pra-kanker.
f) Merokok
Tembakau adalah bahan
pemicu karsiogenik yang paling baik. Asap rokok menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon heterocyclic
nittrosamines. Wanita perokok memiliki resiko 2 kali lebih besar terkena
kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Efek langsung
bahan-bahan tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun lokal sehingga
dapat menjadi kokarsinogen infeksi virus.
Sebuah penelitian
menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat
lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan
serviks di samping merupakan kokarsinogen infeksi virus.
g) Penggunaan
celana ketat
Kondisi lingkungan
vulva dan vagina dapat diakibatkan karena pemakaian celana dalam yang ketat.
Terutama jika bahan celana itu terbuat dari kain yang dapat menghambat
pernafasan daerah vulva dan vagina misalnya nilon. Sebetulnya secara umum tidak
ada dampak langsung dari pemakaian celana ketat atau legging terhadap kesehatan
alat reproduksi perempuan. Dampak tersebut akan bisa muncul jika digunakan terus
menerus dalam jangka waktu yang lama.
Secara normal di dalam
vagina terdapat banyak mikroorganisme yang sebagian besar tidak membahayakan tubuh.
Hanya sekitar 5% saja bakteri pathogen yang berkeliaran dalam vagina. Namun
jika ada bakteri dari luar yang menyerang maka bakteri tersebut dapat
berkembang. Dalam penggunaan legging dapat mempercepat berkembangnya bakteri
karena vagina menjadi lembab. Oleh sebab itu hindarilah penggunaan celana ketat
terlalu lama.
h) Umur
Menopause
memang akan dialami semua wanita. Pada masa itu sering terjadi perubahan
sel-sel abnormal pada mulut rahim. Pada usia 35-55 tahun memiliki resiko 2-3
kali lipat untuk menderita kanker mulut rahim (serviks). Semakin tua umur
seseorang akan mengalami proses kemunduran, proses tersebut tidak terjadi pada
suatu alat saja tetapi pada seluruh organ tubuh. Semua bagian tubuh mengalami
kemunduran, sehingga pada usia lanjut lebih banyak kemungkinan jatuh sakit,
atau mudah mengalami infeksi.
i)
Paritas
Paritas merupakan
keadaan dimana seorang wanita pernah melahirkan bayi yang dapat hidup atau
viable. Paritas berbahaya adalah dengan memiliki jumlah anak lebih dari 2 orang
atau jarak persalinan terlampau dekat. Sebab dapat menyebabkan timbulnya
perubahan sel-sel abnormal pada mulut rahim. Jika jumlah anak yang dilahirkan
melalui jalan normal banyak dapat menyebabkan terjadinya perubahan sel abnormal
dari epitel pada mulut rahim dan dapat berkembang menjadi keganasan.
j)
Usia wanita saat menikah
Dalam kenyataannya
menikah dini mempunyai beberapa resiko. Selain kurangnya kesiapan mental juga
mempunyai resiko lebih besar mengalami perubahan sel-sel mulut rahim.
Hal ini karena pada
saat usia muda, sel-sel rahim masih belum matang. Sel-sel tersebut tidak rentan
terhadap zat-zat kimia yang dibawa oleh sperma. Dengan segala macam
perubahannya dan jika belum matang ketika ada rangsangan sel yang tumbuh tidak
seimbang dengan sel yang mati maka kelebihan sel ini bisa berubah sifat menjadi
sel kanker.
3) Faktor
pasangan
a) Hubungan
seksual pada usia muda
Faktor resiko ini
merupakan faktor utama. Sebab semakin muda seseorang perempuan melakukan hubungan
seks, semakin besar resiko untuk terkena kanker serviks. Berdasarkan penelitian
para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17
tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar dari pada yang menikah pada usia
lebih dari 20 tahun.
b) Pasangan
seksual lebih dari satu (Multipatner Sex)
Perilaku bergonta-ganti
pasangan akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan
seperti infeksi human papiloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan
timbulnya kanker serviks. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat
pada wanita yang mempunyai teman seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu,
virus herpes simpleks tipe-2 dapat menjadi faktor pendamping.
Ditemukan berbagai
penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai mempunyai
pasangan seksual yang berganti-ganti lebih resiko untuk menderita kanker serviks.
Sebab wanita yang berganti-ganti pasangan akan rentan terkena virus HPV.
Tinjauan kepustakaan mengenai etiologi kanker leher rahim menunjukkan bahwa
faktor resiko lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan wanita
tuna susila (WTS). Dari WTS itu suami dapat membawa virus dan menularkan pada
isterinya.
d.
Tanda
dan Gejala Kanker Serviks
Kanker serviks pada stadium lesi pra kanker tidak
menimbulkan gejala. Kelainan hanya dapat ditemui dengan pemeriksaan Pap’Smear berupa
ditemukannya sel-sel abnormal pada bagian serviks. Jika sudah berkembang
menjadi kanker, akan ditemukan keluhan antara lain : keputihan
yang tidak sembuh-sembuh dan berbau, perdarahan
pasca sanggama, perdarahan diluar atau diantara
siklus haid, rasa sakit pada saat berhubungan
seksual (Sofani, 2008).
Menurut Share (2008), pada awalnya
perjalanan penyakit dari kanker leher rahim dapat berupa lesi prakanker.
Perubahan prakanker ini biasanya tidak menimbulkan
gejala dan tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan
panggul atau Pap’Smear. Gejala
biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan
dan menyusup ke jaringan sekitarnya. Pada saat ini dapat timbul gejala seperti
gangguan menstruasi, perdarahan vagina, serta keputihan. Jika kanker berkembang makin lanjut maka dapat timbul
gejala-gejala seperti:
1)
Berkurangnya nafsu makan, penurunan berat badan,
kelelahan
2)
Nyeri panggul, punggung dan tungkai
3)
Keluar air kemih dan tinja dari vagina
4)
Patah tulang
Kanker Serviks pada stadium dini sering tidak
menunjukkan gejala atau tanda tanda yang khas, bahkan tidak ada gejala sama
sekali. Gejala yang
sering timbul pada stadium lanjut antara lain
adalah :
1)
Pendarahan sesudah senggama / hubungan seksual
2)
Keluar keputihan atau cairan encer dari vagina
3)
Pendarahan sesudah mati haid (menopause)
4)
Pada tahap lanjut dapat keluar cairan kekuning-kuningan,
berbau atau bercampur darah, nyeri panggul atau tidak dapat buang air kecil
(Anonim, 2011).
Menurut Sukaca (2009), pada fase
sebelum terjangkitnya kanker sering penderita tidak mengalami gejala atau tanda
yang khas. Namun sering ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1)
Keluar cairan encer dari vagina (keputihan)
2) Pendarahan setelah
senggama yang kemudian dapat berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal
3) Timbulnya perdarahan
setelah masa menopause
4) Pada masa invasif dapat
keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan
darah
5) Timbul gejala-gejala anemia
bila terjadi perdarahan kronis
6) Timbul nyeri panggul
(pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi
di bagian pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefosis. Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat
lainnya.
7) Pada stadium lanjut,
badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul iritasi
kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum), terbentuknya fistel
vesikovaginal atau rektovaginal,
atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.
Namun bila sel-sel tidak normal ini berkembang menjadi
kanker serviks, maka muncul gejala-gejala sebagai berikut :
1) Perdarahan pada vagina
dan tidak normal. Hal ini dapat ditandai dengan perdarahan di antara periode
menstruasi yang regular, periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak
dari biasanya, perdarahan setelah berhubungan seksual atau pemeriksaan panggul.
2) Rasa sakit saat
berhubungan seksual
3) Jika kanker berkembang
makin lanjut maka dapat timbul gejala-gejala seperti berkurang nafsu makan,
penurunan berat badan, kelelahan, nyeri panggul, punggung dan tungkai, keluar
air kemih dan tinja dari vagina, patah tulang.
e.
Cara
Pencegahan Kanker Serviks
Pencegahan, menurut Nasdaldy (2010), dapat
dilakukan dengan tiga strategi : primer, sekunder, dan tertier.
1) Pencegahan primer
diperlukan pada semua populasi yang memiliki risiko terkena kanker mulut rahim.
Caranya, dengan memberikan penyuluhan.
2) Pencegahan sekunder juga diperlukan pada orang yang tidak memiliki gejala agar angka kejadian dapat ditekan dan memungkinkan pengobatan sedini
mungkin. Pengobatan lebih awal, selain biayanya sedikit, hasilnya pun lebih
baik.
3) Pencegahan tertier dilakukan pada orang yang sudah terkena penyakit. Pengobatan Kanker Seviks dapat dilakukan dengan pembedahan (pengangkatan leher rahim,
indung telur dan seluruh jaringan di sekitarnya), Radioterapi dan Kemoterapi.
Tingkat keberhasilan pengobatan ini tentunya tergantung dari tingkatan kanker
serviks yang dialami oleh si penderita. Dari segi biaya, pengobatan kanker serviks
ini tergolong mahal.
Menurut
Sukaca (2009) pencegahan kanker leher rahim dapat dilakukan dengan pencegahan
primer dan pencegahan sekunder :
1) Pencegahan
Primer
Pencegahan primer adalah sebuah
pencegahan awal kanker yang utama. Hal ini untuk menghindari faktor resiko yang
dapat dikontrol. Cara-cara tersebut seperti tundalah hubungan seksual sampai
usia diatas remaja, batasi jumlah pasangan seksual, menolak berhubungan seksual
dengan yang mempunyai banyak pasangan, menolak berhubungan seksual dengan orang
terinfeksi genital warts, hubungan
seksual yang aman (kondom tidak memproteksi infeksi HPV), hentikan merokok.
2) Pencegahan
sekunder
Pencegahan sekunder adalah pencegahan
yang dilakukan dengan cara uji Pap’Smear
dengan teratur. Hal tersebut dapat dilakukan pada : semua wanita usia 18 tahun
atau telah melakukan hubungan seksual, wanita yang telah dilakukan pengangkatan
rahim, wanita yang telah menopause,
bila telah 3 kali Pap’Smear dan
hasilnya normal maka pemeriksaan akan lebih jarang.
Menurut Abdinst (2011), beberapa cara
praktis yang dilakukan untuk mencegah kanker
serviks dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
1)
Melakukan pembersihan organ intim
atau dikenal dengan istilah vagina toilet.
Ini dapat dilakukan sendiri atau dapat juga dengan bantuan dokter ahli.
Tujuannya untuk membersihkan organ intim wanita dari kotoran dan penyakit.
2)
Hindari merokok. Banyak bukti menunjukkan
penggunaan tembakau dapat meningkatkan risiko terkena kanker serviks.
3)
Miliki pola makan sehat, yang kaya
dengan sayuran, buah dan sereal untuk merangsang sistem kekebalan tubuh.
Misalnya mengkonsumsi berbagai karotena, vitamin A, C, dan E, dan asam folat
dapat mengurangi risiko terkena kanker leher rahim.
4)
Hindari seks sebelum menikah atau di
usia sangat muda atau belasan tahun.
5) Hindari berhubungan seks selama masa haid terbukti
efektif untuk mencegah dan menghambat terbentuknya dan berkembangnya kanker
serviks.
6)
Hindari
berhubungan seks dengan banyak partner.
7) Secara rutin menjalani tes Pap’Smear secara teratur. Saat ini tes Pap’Smear bahkan sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas dengan
harga terjangkau.
8) Alternatif tes Pap’Smear
yaitu tes IVA dengan biaya yang lebih murah dari Pap’Smear. Tujuannya untuk deteksi dini terhadap infeksi HPV.
9) Pemberian vaksin atau vaksinasi HPV untuk mencegah terinfeksi HPV.
Kanker serviks cenderung muncul pada perempuan berusia 35-55 tahun, namun dapat
pula muncul pada perempuan dengan usia yang lebih muda. Tingginya angka ini
biasanya disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan kesadaran akan bahaya kanker
serviks. Kanker serviks cenderung muncul pada perempuan berusia 35-55 tahun,
namun dapat pula muncul pada perempuan dengan usia yang lebih muda. Saat ini kanker serviks dapat dicegah dengan pemberian
vaksin HPV.
Langkah ini
dapat membantu memberikan perlindungan terhadap beberapa tipe HPV yang dapat
menyebabkan masalah dan komplikasi seperti kanker serviks dan genital warts. Vaksin ini sebaiknya
diberikan pada perempuan muda sedini mungkin, karena tingkat imunisasi tubuh
serta pertumbuhan dan reproduksi sel di area serviks masih sangat baik. Vaksinasi merupakan metode deteksi dini sebagai upaya pencegahan
kanker serviks. Melalui vaksinasi semakin besar kesempatan disembuhkannya penyakit ini dan
semakin besar kemungkinan untuk menekan angka kasus kanker serviks yang
mengancam kaum perempuan (Anonim, 2011).
Menurut
Sofani (2008), dengan
kemajuan teknologi, saat ini kanker serviks dapat dicegah dengan pemberian
vaksin HPV yang membantu memberikan perlindungan terhadap beberapa tipe HPV.
Terutama tipe yang menyebabkan masalah kanker serviks dan genital warts.
Vaksinasi ini efektif
untuk wanita pada masa
usia reproduksi dimana secara seksual masih aktif. Sangat efektif diberikan pada wanita yang belum terpapar oleh infeksi HPV
dan belum melakukan hubungan seksual. Dan pemeriksaan Pap Smear tetap
dibutuhkan walaupun sudah dilakukannya vaksinasi. Vaksinasi diberikan sebanyak
3 kali dalam jangka waktu 6 bulan, yaitu vaksinasi I pada bulan pertama,
vaksinasi II bulan ketiga dan vaksinasi
III pada bulan ke enam.
Sebelum melakukan vaksinasi sebaiknya konsultasikan
dulu kondisi kandungan anda kepada dokter dan lakukan pemeriksaan Pap Smear (bagi yang
sudah menikah atau berhubungan seksual).
f.
Deteksi
Dini Kanker Serviks
Deteksi sel-sel yang tidak normal secara dini dapat dilakukan
dengan pemeriksaan Pap’Smear. Pemeriksaan Pap’Smear adalah pemeriksaan terhadap cairan pada dinding
serviks yang diambil melalui pemeriksaan dalam oleh dokter dan dilihat interpretasi
melalui mikroskop. Prosedur
pemeriksaan ini hanya memerlukan waktu tidak lebih dari 10 menit. Perlu
diketahui untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, sebaiknya pemeriksaan ini
dilakukan saat tidak haid (waktu 5-7 hari setelah selesai haid) dan tidak
melakukan hubungan seksual 2 hari sebelumnya. Perlu diberikan juga informasi
mengenai haid terakhir, jumlah anak, kontrasepsi yang digunakan dan adanya
riwayat radiasi atau minum obat-obatan hormonal. Selain Pap Smear cara
konvensional, saat ini untuk meningkatkan akurasi hasil pemeriksaan
dikembangkan pemeriksaan Thin Prep (liquid based cervical cytology).
Dengan prosedur yang sama dengan Pap’Smear tetapi dengan hasil yang lebih memuaskan. Namun
pemeriksaan ini sedikit lebih mahal dibandingkan Pap’Smear biasa (Sofani, 2008).
Gambar 1
Sumber : http://kaylazka.wordpress.com/2008/10/17/kanker-serviks-deteksi-dini-dan-pencegahan/
Keterangan gambar :
(1) Vagina
dibuka dengan spekulum agar mulut rahim kelihatan.
(2) Dilakukan
usapan pada mulut rahim dengan spatel.
(3) Spatel
dioleskan ke obyek glas, kemudian diperiksa dengan mikroskop.
(4) Metode
berbasis cairan : usapan pada mulut rahim dilakukan dengan citobrush (sikat) lalu sikat
dimasukkan ke dalam cairan fiksasi, dibawa ke
laboratorium untuk diperiksa dengan miroskop.
g.
Dampak
Kanker Serviks
Tidak hanya sakit secara fisik, namun terjangkit virus
HPV yang menyebabkan kanker serviks dan
juga kutil kelamin, bisa menggangu penderita secara psikis, yang menyebabkan
turunnya tingkat kepercayaan diri dalam kehidupan sosial dan juga kehidupan
rumah tangganya, terutama aktivitas seksual bagi pasangan yang sudah menikah atau aktif secara seksual (Anonim, 2010).
h.
Tingkat
Keganasan Kanker Serviks
Sistem yang umumnya digunakan untuk pembagian stadium
kanker serviks adalah sistem yang diperkenalkan oleh International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO). Pada
sistem ini, angka romawi 0 sampai IV menggambarkan stadium kanker. Semakin
besar angkanya, maka kanker semakin serius dan dalam tahap lanjut.
1)
Stadium 0
Stadium ini disebut juga Carcinoma In Situ (CIS). Tumor masih dangkal, hanya tumbuh di
lapisan sel serviks.
2)
Stadium I
Kanker telah tumbuh dalam serviks, namun belum
menyebar kemanapun. Stadium I dibagi menjadi :
a)
Stadium IA1
Dokter tidak dapat melihat kanker tanpa mikroskop.
Kedalamannya kurang dari 3 mm dan besarnya kurang dari 7 mm.
b)
Stadium IA2
Dokter tidak dapat melihat kanker tanpa mikroskop.
Kedalamannya antara 3-5 mm dan besarnya kurang dari 7 mm.
c)
Stadium IB1
Dokter dapat melihat kanker dengan mata telanjang.
Ukuran tidak lebih besar dari 4 cm.
d)
Stadium IB2
Dokter dapat melihat kanker dengan mata telanjang.
Ukuran lebih besar dari 4 cm.
3)
Stadium II
Kanker berada di bagian dekat serviks tapi bukan di
luar panggul. Stadium II dibagi menjadi :
a)
Stadium IIA
Kanker meluas sampai ke atas vagina, tapi belum
menyebar ke jaringan yang lebih dalam dari vagina.
b)
Stadium IIB
Kanker telah menyebar ke jaringan sekitar vagina dan
serviks, namun belum sampai ke dinding panggul.
4)
Stadium III
Kanker telah menyebar ke jaringan lunak sekitar vagina
dan serviks sepanjang dinding panggul. Mungkin dapat menghambat aliran urin ke
kandung kemih.
5)
Stadium IV
Pada stadium ini, kanker telah menyebar ke bagian lain
tubuh, seperti kandung kemih, rektum, atau paru-paru.
Stadium IV dibagi menjadi :
a)
Stadium IVA
Kanker telah menyebar ke organ terdekat, seperti
kandung kemih dan rectum
b)
Stadium IVB
Kanker telah menyebar ke organ yang lebih jauh,
seperti paru-paru.
2. Faktor yang mempengaruhi kejadian kanker serviks
a.
Umur
Umur
adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun, dikatakan masa awal dewasa
adalah usia 18 tahun sampai 40 tahun, dewasa Madya adalah 41 sampai 60 tahun,
dewasa lanjut >60 tahun, umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung
sejak dilahirkan (Harlock, 2004). Sedangkan menurut DepKes RI (2002)
klasifikasi umur dibagi menjadi umur < 20 tahun, umur 20-35 tahun dan umur
> 35 tahun. Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan
sampai saat berulang tahun. Jika dilihat dari sisi biologis, usia 18-25 tahun
merupakan saat terbaik untuk hamil dan bersalin. Karena pada usia ini biasanya
organ-organ tubuh sudah berfungsi dengan baik dan belum ada penyakit-penyakit degenerative seperti darah tinggi,
diabetes, dan lainnya serta daya tahan tubuh masih kuat (Dini Kasdu, dkk,
2001).
Umur
sangat berpengaruh terhadap proses reproduksi termasuk
permasalahan-permasalahannya khususnya kanker serviks.
Pada usia 35-55 tahun memiliki
resiko 2-3 kali lipat untuk menderita kanker mulut rahim (serviks). Semakin tua
umur seseorang akan mengalami proses kemunduran, proses tersebut tidak terjadi
pada suatu alat saja tetapi pada seluruh organ tubuh. Semua bagian tubuh
mengalami kemunduran, sehingga pada usia lanjut lebih banyak kemungkinan jatuh
sakit, atau mudah mengalami infeksi (Sukaca, 2009).
b.
Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang
dipunyai oleh seorang wanita (BKKBN, 2006). Menurut Prawirohardjo (2009),
paritas dapat dibedakan menjadi primipara, multipara dan grandemultipara.
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan
janin yang mampu hidup diluar rahim (28 minggu) (JHPIEGO, 2008). Sedangkan
menurut Manuaba (2008), paritas adalah wanita yang pernah melahirkan bayi aterm.
Paritas merupakan keadaan dimana
seorang wanita pernah melahirkan bayi yang dapat hidup atau viable. Paritas
berbahaya adalah dengan memiliki jumlah anak lebih dari 2 orang atau jarak
persalinan terlampau dekat. Sebab dapat menyebabkan timbulnya perubahan sel-sel
abnormal pada mulut rahim. Jika jumlah anak yang dilahirkan melalui jalan
normal banyak dapat menyebabkan terjadinya perubahan sel abnormal dari epitel
pada mulut rahim dan dapat berkembang menjadi keganasan (Sukaca, 2009).
Klasifikasi
Paritas menurut Varney (2006) :
1)
Primipara
Primipara
adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup besar untuk hidup
di dunia luar.
2)
Multipara
Multigravida
adalah wanita yang sudah hamil, dua kali atau lebih. Multipara
adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak lebih dari satu kali
(Prawirohardjo, 2009). Multipara
adalah wanita yang pernah melahirkan bayi viabel (hidup) beberapa kali
(Manuaba, 2008).
3)
Grandemultipara
Grandemultipara
adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih.
Grandemultipara
adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih dan biasanya
mengalami penyulit dalam kehamilan dan persalinan (Manuaba, 2008). Grandemultipara
adalah wanita yang pernah melahirkan
bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati (Rustam, 2005).
c.
Alat
Kontrasepsi
1) Pengertian
Kontrasepsi adalah usaha-usaha atau
tindakan yang bersifat sementara dan permanen untuk menghindari atau mencegah
terjadinya kehamilan atau konsepsi baik menggunakan alat atau obat-obatan (Sarwono,
2005). Menurut Suratun (2008) kontrasepsi adalah menghindari/mencegah
terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan
sel sperma. Berdasarkan maksud dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan
kontrasepsi adalah pasangan yang aktif melakukan hubungan seksual dan
kedua-duanya memiliki kesuburan normal namun tidak menghendaki kehamilan.
Kontrasepsi merupakan bagian dari
pelayanan kesehatan reproduksi untuk pengaturan kehamilan, dan merupakan hak
setiap individu sebagai mahluk seksual.
2) Macam-macam
Metode Kontrasepsi
Menurut Hanafi (2003), metode kontrasepsi terbagi
menjadi 2
yaitu : (1) Metode Kontrasepsi Sederhana, meliputi KB alami, spermisid, kondom, dan
diafragma; (2) Metode Kontrasepsi Modern meliputi kontasepsi hormonal (pil KB, suntik KB, dan implant / susuk
KB), IUD, metode kontap (Kontrasepsi Mantap),
meliputi Vasektomi dan Tubektomi.
Dari macam-macam
metode kontrasepsi tersebut diatas peneliti mengelompokan atau membatasi untuk
membuat definisi operasional sebagai berikut:
a) Kontrasepsi
hormonal meliputi suntik, implant, pil.
b) Kontrasepsi
nonhormonal meliputi IUD, KB alami, kontap.
3) Efek
Samping
Hormon estrogen
dapat berfungsi sebagai promotor bagi kanker tertentu, misalnya kanker payudara
dan kanker serviks. Wanita yang memiliki menstruasi memiliki kadar estrogen
yang tinggi, maka resiko terbentuknya kanker payudara meningkat pada wanita
yang mengalami menstruasi dini dan mencapai menopause lambat. Pada penggunaan
kontrasepsi hormonal tidak jarang pula ditemukan displasia serviks, sehingga selama masih menggunakan kontrasepsi
hormonal sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan ginekologik secara teratur, seperti pemeriksaan pap’smear setiap 6 bulan sampai 1 tahun
sekali (Ali, 2002).
Penggunaan
kontrasepsi pil dalam jangka waktu lama (5 tahun atau lebih) meningkatkan
resiko kanker leher rahim sebanyak 2 kali. Pil KB dapat memberikan efek negatif
pada kanker leher rahim sebab tugas pil KB adalah mencegah kehamilan dengan
cara menghentikan ovulasi dan menjaga kekentalan lendir servikal sehingga tidak
dilalui sperma. Menurut penelitian jika menggunakan metode kontrasepsi barrier
(penghalang), terutama yang menggunakan kombinasi mekanik dan hormon memperlihatkan
penurunan angka kejadian kanker leher rahim yang diperkirakan karena penurunan
paparan terhadap agen penyebab infeksi. WHO melaporkan resiko relatif pada
pemakaian kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan meningkat sesuai dengan
lamanya pemakaian (Sukaca, 2009).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar