Sabtu, 29 Oktober 2011

ca serviks

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Masa reproduksi merupakan masa yang terpenting bagi wanita dan berlangsung kira-kira 33 tahun. Menstruasi pada masa ini paling teratur dan siklus pada alat genitalia bermakna untuk meningkatkan kehamilan. Pada masa ini wanita sering disebut sebagai wanita usia subur (BKKBN, 2000).
Wanita pada usia subur rentan sekali dengan kesehatan reproduksinya. Salah satu penyakit yang ditemukan dan mengganggu alat reproduksi wanita adalah kanker. Penyakit kanker saat ini masih merupakan penyakit yang menimbulkan kekhawatiran serta mengakibatkan penderitaan yang berat bagi wanita dengan dampak sosial yang berarti bagi kehidupan masyarakat. Keadaan demikian semakin berat dan meluas karena penderita penyakit kanker semakin bertambah, sedangkan pengetahuan masyarakat untuk menemukan kanker pada stadium dini agar dapat diobati dengan cepat dan tepat masih rendah (Meiwanto, 2003).
1
Penyakit kanker dapat menyerang semua lapisan masyarakat tanpa mengenal status sosial, umur,  jenis kelamin. Dari status sosial penyakit  kanker serviks uteri dapat menyerang orang kaya, miskin, berpendidikan tinggi, maupun orang dewasa tidak luput dari serangan kanker, namun berdasarkan data yang ada diperkirakan 60% penderita kanker di Indonesia adalah wanita (Mardiana, 2004).
Jenis-jenis kanker yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah kanker serviks uteri, kanker payudara, kanker hati, kanker kulit, kanker nasofaring, kanker kelenjar getah bening, kanker darah dan kanker usus besar (Luwita, 2001).
Diantara tumor ganas gynekologi, kanker serviks uteri merupakan penyakit keganasan yang menimbulkan masalah dengan kesehatan terutama dinegara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia. Sementara di dunia penderita kanker serviks uteri masih merupakan urutan terbanyak kedua setelah kanker payudara (Mardiana, 2004).
Kanker serviks merupakan kanker kedua terbanyak yang ditemukan pada wanita didunia. Kasus baru kanker serviks tiga perempatnya terjadi di negara berkembang, kurang lebih 500.000 kasus terjadi setiap tahun (Sugiarto, 2002). Di Indonesia kanker serviks telah menjadi pembunuh nomor satu dari keseluruhan kanker. Kanker serviks merupakan penyakit kanker paling umum kedua yang biasa diderita perempuan berusia 20-55 tahun (Titik Kuntari, 2011).
Departemen Kesehatan RI memperkirakan lebih banyak wanita terkena kanker serviks uteri dengan angka kejadian berkisar 100/1000 penduduk/tahun. Masalah kanker di Indonesia sangat khas, yakni kasusnya banyak dan ditemukan di stadium lanjut (Muchlis dkk, 2000).
Tingginya jumlah penderita kanker leher rahim di Indonesia ini disebabkan terlambatnya penderita datang berobat (Amariah, 2001). Keterlambatan tersebut karena beberapa hal diantaranya yaitu sebagian dari penderita tidak mengerti tentang penyakit sebanyak 47%, takut operasi 14,5%, tumor tidak nyeri 12,5%, keterbatasan biaya 9,4%, lain-lain 10,2% (Azwar, 2005). Lebih dari 70% kasus sudah berada distadium lanjut ketika datang kerumah sakit, padahal pada waktu 5 tahun sebelum terjadi kanker sudah timbul suatu kelainan pada leher rahim. Kelainan ini disebut lesi pra kanker. Jika lesi pra kanker ini ditemukan secara dini maka nyawa seorang wanita dapat diselamatkan, karena lesi pra kanker ini dapat disembuhkan 100% apabila ditangani segera. Yang menjadi masalah yaitu pada saat lesi pra kanker ini timbul, penderita tidak merasakan gejala apa-apa sehingga penderita merasa dirinya tidak sakit (Anzwar, 2005).
WHO menyatakan bahwa sepertiga dari semua jenis kanker dapat dicegah, sepertiga lagi dapat disembuhkan bila ditemukan secara dini dan sisanya hanya dapat diringankan penderitanya. Kanker serviks atau kanker leher rahim telah menjadi ancaman yang nyata bagi kaum wanita di Indonesia. Hampir sebagian kasus yang dilaporkan berakhir dengan kematian, sebab kondisi kankernya pada saat ditemukan sudah pada stadium lanjut.  Apabila penyakitnya dapat diobati tidak dapat sembuh total tetapi hanya sekedar memperpanjang umur penderita (Luwita, 2001).
Mengingat harapan hidup dan angka kesembuhan yang rendah, lama penderitaan serta biaya pengobatan yang tinggi, upaya preventif perlu dilakukan oleh setiap wanita dengan cara memeriksakan dirinya secara rutin. Kunci dari upaya penyembuhan semua jenis kanker adalah deteksi dini, kanker serviks dapat dideteksi dengan Pap’Smear. Pap’Smear merupakan prosedur medis untuk meneliti sel-sel yang diambil dari leher rahim berupa apusan lendir (Meiwanto, 2003).
Pada umumnya insiden kanker sangat rendah dibawah umur 20 tahun dan mulai naik pada umum awal puncak pada umur 30-34 tahun, dan displasia mencapai puncaknya naik kembali pada usia lebih tua (Muchlis dkk, 2000). Wanita yang beresiko tinggi terkena kanker serviks yaitu wanita yang menikah muda, berganti-ganti pasangan (multi patner), wanita perokok, dan wanita yang melahirkan lebih dari 4 kali (multiparitas).
Berdasarkan data, setiap tahun sekitar 500.000 perempuan di Indonesia didiagnosis terinfeksi kanker serviks. Dari jumlah itu, sekitar 270.000 penderita meninggal dunia (Titik Kuntari, 2011). Sedangkan kasus kajadian kanker di RSUD Prof.Dr.Margono Soekarjo Purwokerto pada tahun 2009 sebanyak 655 kasus, dan kanker serviks menduduki peringkat kedua setelah kanker mamae yaitu sebanyak 33,3 % kasus dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 41,6 % kasus dan untuk kasus kematian kanker serviks 10% dari 140 kasus.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk meneliti gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kanker serviks.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar